Kamis, 01 April 2010
Sejarah Keemasan Ke-Khilafahan
Sebagaimana telah dimaklumi, hampir 2 abad ideologi Kapitalisme mendominasi kehidupan umat manusia di dunia, termasuk di negeri ini, hingga hari ini. Apa hasilnya.? Tulisan ini hanya akan memaparkan dari dua sisi saja: ekonomi dan pendidikan.. Pertama: dari segi ekonomi. Selama dunia dipimpin ideologi Kapitalisme, terdapat 1,214 miliar orang miskin pada tahun 1997 saja (20% dari penduduk dunia); 1,6 miliar jiwa (25%) penduduk dunia lainnya hidup hanya dengan 1-2 dolar AS perhari. (The United Nations Human Development Report, 1999). Lebih dari 800 juta menderita kelaparan di seluruh dunia. Setiap hari, di seluruh dunia kira-kira 50 ribu orang meninggal akibat kurangnya kebutuhan tempat tinggal, air yang tercemar, dan sanitasi yang tidak memadai. (Shukor Rahman, New Straits of Malaysia Times, 2001). Indonesia sendiri saat ini termasuk dalam kelompok negara-negara miskin di dunia. Laporan Bank Dunia terbaru menyebutkan, lebih dari 100 juta penduduk negeri ini berada di bawah garis kemiskinan. Menurut hasil Susenas 2003, diperkirakan sebanyak 5.7 juta balita (27,3%) mengalami masalah gizi buruk; 8%-nya (1.67 juta balita) mengalami busung lapar. (Kompas, 28/5/2006). Ingat, fakta nyata ini terjadi di negeri yang subur dengan kekayaan alam yang melimpah-ruah. Penerapan idelogi Kapitalisme juga telah menciptakan masalah pengangguran. Pada akhir 1998, di seluruh dunia kira-kira 1 miliar pekerja (1/3 dari tenaga kerja dunia) menjadi pengangguran atau setengah pengangguran. (World Employment Report 1998-1999, International Labor Organization). Di Indonesia, menurut Center for Labor and Development Studies (CLDS), total pengangguran 42 juta orang pada 2002; 43,6 juta pada 2003; dan 45,2 juta pada 2004 (Republika, 13/5/02). Kedua: di bidang pendidikan. Akibat krisis ekonomi, di Indonesia sekitar 4.5 juta anak Indonesia harus putus sekolah. Kualitas pendidikan rakyat Indonesia juga makin rendah. Menurut UNESCO (2000) IPM Indonesia makin payah. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-109 (1999). Menurut Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan terakhir dari 12 negara di Asia. Pendidikan Indonesia justru dihiasi dengan ragam tindak kriminal. Hasil survei di Jakarta Pusat dan Jakarta Barat menunjukkan bahwa sekitar 92% anak usia di bawah 18 tahun menjadi pengguna narkoba; sebagiannya bahkan sekaligus menjadi pengedar narkoba. (Media Indonesia, 23/6/06). Itulah di antara “karya nyata” ideologi Kapitalisme yang diterapkan di dunia, termasuk di Indonesia. Khilafah: Melahirkan Hidup Berkah Berbeda dengan keadaan saat ini yang dikuasai oleh ideologi Kapitalisme, pada masa Kekhilafahan Islam sepanjang sejarahnya, kemakmuran dan kesejahteraan justru dirasakan oleh semua orang, Muslim maupun non-Muslim. Pertama: dari segi ekonomi. Kemakmuran ekonomi sepanjang sejarah Kekhilafahan Islam pada masa lalu benar-benar nyata. Sekadar contoh, gambaran tersebut terjadi pada dua masa yang berbeda: masa Khalifah Umar bin al-Khaththab (era Khulafaur Rasyidin) dan masa Khalifah Umar bin Abdul ‘Aziz (era Kekhilafahan Bani Umayah). Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab selama 10 tahun, kesejahteraan merata ke segenap penjuru negeri. Abu Ubaid menuturkan (Al-Amwâl, hlm. 596) bahwa dalam tiga tahun saja masa pemerintahan Khalifah Umar, di wilayah Yaman saja, setiap tahun Muadz bin Jabal mengirimkan separuh bahkan seluruh hasil zakat yang dipungutnya kepada Khalifah Umar. Harta zakat itu tidak dibagikan kepada kalangan fakir-miskin. Masalahnya, kata Muadz, “Saya tidak menjumpai seorang (miskin) pun yang berhak menerima bagian zakat.” (Al-Qaradhawi, 1995). Ghanîmah juga melimpah pada masa Khalifah Umar. Setelah Penaklukan Nahawand (20 H) yang disebut fath al-Futûh (puncaknya penaklukan), misalnya, setiap tentara berkuda mendapatkan ghanîmah sebesar 6000 dirham (senilai Rp 75 juta), sedangkan masing-masing tentara infanteri mendapat bagian 2000 dirham atau senilai Rp 25 juta. (Ash-Shinnawi, 2006). Adapun pada masa Khalifah Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, meskipun masa Kekhilafahannya cukup singkat, hanya sekitar 3 tahun (99-102 H/818-820 M), setiap warga negara juga merasakan kemakmuran dan kesejahteraan yang sama. Ibnu Abdil Hakam (Sîrah Umar bin Abdul ‘Azîz hlm. 59) meriwayatkan bahwa Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu, pernah berkata, “Saya pernah diutus Umar bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang-orang miskin. Namun, saya tidak menjumpai seorang pun. Umar bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan.” (Al-Qaradhawi, 1995). Pada masanya, Gubernur Basrah juga pernah mengirim surat kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz, “Semua rakyat hidup sejahtera sampai saya sendiri khawatir mereka akan menjadi takabur dan sombong.” (Al-Qaradhawi, 1995). Kedua: bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan. Sepanjang sejarahnya, Khilafah Islam sangat peduli terhadap dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan. Pada masa Kekhilafahan Umar bin al-Khaththab saja, Khalifah Umar memberikan gaji kepada para pengajar al-Quran masing-masing sebesar 15 dinar (1 dinar = 4,25 gram emas. Jika 1 gram emas Rp 100.000,00, 1 dinar berarti setara dengan Rp 425.000,00. Artinya, gaji seorang guru ngaji adalah 15 (dinar) X Rp 425.000,00 = Rp 6.375.000,00. Ini berarti lebih dari 2 kali lipat dari gaji seorang guru besar (profesor) di Indonesia dengan pengabdian puluhan tahun. Para khalifah juga sangat peduli terhadap dunia perbukuan. Pada abad ke-10, misalnya, di Andalusia saja terdapat 20 perpustakaan umum. Perpustakaan Cordova, misalnya, memiliki tidak kurang dari 400 ribu judul buku. Ini termasuk jumlah yang luar biasa untuk ukuran zaman itu. Padahal empat abad setelahnya, dalam catatan Chatolique Encyclopedia, Perpustakaan Gereja Canterbury saja—yang terbilang paling lengkap pada abad ke-14—hanya miliki 1800 (1,8 ribu) judul buku. Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo juga mengoleksi tidak kurang 2 juta judul buku. Perpustakaan Umum Tripoli di Syam—yang pernah dibakar oleh Pasukan Salib Eropa—bahkan mengoleksi lebih dari 3 juta judul buku, termasuk 50 ribu eksemplar al-Quran dan tafsirnya. Di Andalusia, pernah pula terdapat Perpustakaan al-Hakim yang menyimpan buku-bukunya di dalam 40 ruangan. Setiap ruangan berisi tidak kurang dari 18 ribu judul buku. Artinya, perpustakaan tersebut menyimpan sekitar 720 ribu judul buku. Pada masa Kekhilafahan Islam yang cukup panjang, khususnya masa Kekhalifahan Abbasiyah, perpustakaan-perpustakaan semacam itu tersebar luas di berbagai wilayah Kekhilafahan, antara lain: Baghdad, Ram Hurmuz, Rayy (Raghes), Merv (daerah Khurasan), Bulkh, Bukhara (kota kelahiran Imam al-Bukhari), Ghazni, dsb. Lebih dari itu, hal yang lazim saat itu, di setiap masjid pasti terdapat perpustakaan yang terbuka untuk umum. Rata-rata pengunjung perpustakaan pada masa Kekhilafahan Islam ini mendapatkan segala alat yang diperlukan secara gratis, seperti pena, tinta, kertas, dll. Seorang ulama seperti Yaqut ar-Rumi bahkan memuji para pengawas perpustakaan di kota Mer Khurasan karena mereka mengizinkan peminjaman sebanyak 200 buku tanpa jaminan apapun perorang. Ini terjadi masa Kekhalifahan Islam Abad 10 M. Penghargaan para khalifah terhadap para ulama/ilmuwan juga sangat tinggi. Bahkan para khalifah memberikan penghargaan yang sangat besar terhadap para penulis buku, yaitu memberikan imbalan emas seberat buku yang ditulisnya. Bisa dibayangkan jika seorang ulama menulis lebih dari satu judul buku. Faktanya, para ulama/ilmuwan Muslim pada masa lalu adalah orang-orang yang produktif dalam menghasilkan karya berupa buku. Di antara mereka bahkan ada yang menulis puluhan atau ratusan judul buku, berjilid-jilid pula. Itulah secuil gambaran kerberhasilan berupa kemakmuran dan kesejahteraan yang dicapai oleh Khilafah Islam sepanjang sejarahnya. Khilafah: Pilihan Akal Sehat Pertanyaannya, mengapa Khilafah pada masa lalu mampu menciptakan kemakmuran, kesejahteraan dan keberkahan hidup? Kuncinya tidak lain adalah syariah Islam yang diterapkan secara total oleh Khilafah dalam seluruh aspek kehidupan. Mahabenar Allah Yang berfirman: "Tidaklah Kami mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam". (TQS al-Anbiya’ [21]: 107). Maknanya, Allah SWT mengutus Nabi Muhammad saw.—dengan membawa syariah-Nya—adalah untuk menciptakan kemaslahatan dan keberkahan bagi alam ini. Sebaliknya, mengapa ideologi Kapitalisme banyak menciptakan kesengsaraan dan kesempitan hidup bagi umat manusia? Tidak lain karena ideologi ini berpaling bahkan bertentangan dengan syariah-Nya. Mahabenar pula Allah Yang berfirman: "Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, baginya kehidupan yang sempit dan pada Hari Kiamat kelak Kami akan membangkitkannya dalam keadaan buta. (TQS Thaha [20]: 124). Walhasil, pilihan pada akhirnya ada pada diri kita. Mau hidup di bawah naungan Khilafah yang menerapkan syariah—yang telah terbukti melahirkan keberkahan hidup—ataukah tetap berkubang dalam kehidupan saat ini yang dikuasai oleh ideologi Kapitalisme, yang telah terbukti melahirkan kesengsaraan dan kesempitan hidup.? Akal sehat pasti akan memilih yang pertama. Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.
Rabu, 31 Maret 2010
Antrian Tiket Neraka
Pagi tadi tidak seperti biasanya, memasuki areal parkir basement Gedung Plaza Mutiara harus sedikit antri, meski tidak terlalu panjang. Karena biasanya saya sampai kantor sekitar jam 10 siang tidak pernah antri seperti itu, saya pikir mungkin sedang ada acara di Hotel Marriot sehingga banyak tamu berdatangan untuk memarkir kendaraannya. Areal parkir juga demikian, biasanya banyak space yang kosong, sampai-sampai saya punya kavling parkir sendiri di basement 1, pagi tadi sudah terisi kendaraan lain, sehingga saya terpaksa sedikit menyingkir ke bawah, ke basement 2. Saya kemudian bergegas ke kantor di lantai 8 melalui lift barang, seperti biasanya.
Adzan Dzuhur berkumandang, tidak terasa dua jam telah berlalu, belum banyak pekerjaan kantor yang saya lakukan. Saya lebih tertarik dengan perkembangan berita-berita seputar Gayus Tambunan dan artikel-artikel di situs eramuslim. Sejenak kemudian, saya bergegas menuju musholla gedung yang berada di Basement 1 untuk menunaikan shalat dzhuhur dan break makan siang. Pemandangan yang tidak biasa kembali saya jumpai sesampai di Basement 1. Begitu pintu lift terbuka, ramai anak-anak muda usia belasan tahun (ABG), bahkan beberapa terlihat masih mengenakan seragam SMU, berebut memasuki lift. Untungnya ada petugas berbaju hitam, belakangan saya tahu petugas itu adalah staff PT Java Musikindo, perusahaan milik selebrity Adrie Subono. Sehingga saya dan beberapa orang akhirnya bisa keluar dari lift. Tapi saya kemudian kesulitan memasuki Musholla karena posisi musholla persis disamping pintu lift tersebut. Sayapun kemudian mendekati seorang petugas sekuriti yang sedang melepas sepatunya, sepertinya akan menunaikan sholat juga, dan bertanya. "Pak, ini anak-anak ABG pada ngantri apaan sih, kok rame banget?" Dengan entengnya bapak sekurity ini menjawab, "pada ngantri buat beli tiket ke neraka, mas! Kita mah beli tiket ke surga aja yok!" seraya membantu saya menyingkirkan kumpulan anak-anak yang menghalangi jalan ke tempat wudhlu. Tidak lama saya mengetahui dari obrolan anak-anak tadi, mereka sedang antri untuk mendapatkan tiket sebuah konser musik yang pagi ini mulai dijual oleh PT Java Musikindo di lantai 2 dengan harga khusus. Sayapun shalat Dzhuhur yang ironisnya hanya berdua dengan bapak sekuriti tadi.
Selepas shalat, saya menuju kantin tak jauh dari Musholla untuk makan siang. Kantin nasi Padang ini juga terlihat lebih ramai dari biasanya. Saya duduk disamping sekumpulan gadis-gadis ABG yang tengah asyik mengobrol, karena memang tidak ada tempat yang tersedia selain itu. Dari obrolan mereka aku mendapatkan beberapa informasi seputar konser musik tadi. Rupanya, Adrie Subono - Java Musikindo - berhasil mendatangkan penyanyi asal Amerika yang lebih dikenal dengan nama Pitbull. Jujur, saya tidak update untuk urusan musik, jangankan internasional, level nasional saja saya gak ngikutin, jadi mendengar nama grup musik Pitbull inipun baru hari ini. Gadis-gadis disamping saya tampak selesai menyantap makan siang, tapi mereka tetap mengobrol dengan asyiknya. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebungkus rokok, kemudian gadis-gadis itu semua merokok sambil melanjutkan obrolan mereka.
Tingkah polah anak-anak ABG tadi mengingatkan saya dengan tayangan-tayangan sinetron di televisi kita, saya tidak tahu pasti apakah tontonan itu yang menjadi tuntunan anak-anak remaja sekarang, ataukah memang itu gambaran kehidupan remaja kita saat ini, terutama mereka yang hidup di kota-kota besar macam Jakarta. Ironis sekali melihat mereka rela berjam-jam antri untuk mendapatkan tiket konser, mengeluarkan uang ratusan ribu demi konser ini, setahu saya harga tiket yang paling murah adalah Rp 250.000, bahkan ada yang sudah berjam-jam mengantri begitu dapat giliran ternyata uangnya kurang, dan harus ambil uang lagi kemudian mengantri lagi dari belakang, luar biasa! Siapakah pitbull ini sehingga kok begitu besarnya pengorbanan remaja-remaja tersebut untuk sekedar menonton konser mereka?
Setelah melakukan sedikit searching melalui internet, saya menemukan detail informasi mengenai Pitbull ini. Rupanya, Pitbull bukanlah group musik, tapi nama panggung dari seorang Rapper Amerika keturunan Cuba yang nama aslinya adalah Armando Christian Perez berusia 29th. Latar belakangnya cukup kelam, broken home sejak kecil dan diasuh ibunya yang bercerai dengan ayah Perez. Umur 16th, Perez diusir oleh ibunya karena terlibat dalam perdagangan narkoba. Keberuntungan kemudian menghampiri pemuda ini karena bakatnya dalam musik hip hop reggae, mengantarkannya ke jalur selebritis yang kemudian terkenal bukan saja di Amerika, tetapi juga di mancanegara, termasuk Indonesia. Jika anda coba mengakses official website pitbull, maka anda akan disuguhkan gambar-gambar wanita dengan pakaian cukup terbuka, khas selebrity Amerika.
Sungguh malang remaja kita yang entah disadari atau tidak telah memberikan sebagian wala' nya kepada orang semacam ini, sehingga mereka rela melakukan apa saja hanya demi menonton konsernya. Saya sendiri, hanya bisa beristighfar, memohon ampunan atas kelemahan diri saya dalam dakwah. Saya mungkin lebih memahami dien ini ketimbang remaja-remaja tadi, tapi kelemahan dalam dakwah sungguh menghinggapi diri saya. Saya hanya bisa menyaksikan dengan kebencian dalam hati. Ya Allah, berikan kekuatan kepada hamba agar mampu membela dien Mu dan menyelamatkan generasi-generasi umat Mu dari jurang kehancuran, amin.
Adzan Dzuhur berkumandang, tidak terasa dua jam telah berlalu, belum banyak pekerjaan kantor yang saya lakukan. Saya lebih tertarik dengan perkembangan berita-berita seputar Gayus Tambunan dan artikel-artikel di situs eramuslim. Sejenak kemudian, saya bergegas menuju musholla gedung yang berada di Basement 1 untuk menunaikan shalat dzhuhur dan break makan siang. Pemandangan yang tidak biasa kembali saya jumpai sesampai di Basement 1. Begitu pintu lift terbuka, ramai anak-anak muda usia belasan tahun (ABG), bahkan beberapa terlihat masih mengenakan seragam SMU, berebut memasuki lift. Untungnya ada petugas berbaju hitam, belakangan saya tahu petugas itu adalah staff PT Java Musikindo, perusahaan milik selebrity Adrie Subono. Sehingga saya dan beberapa orang akhirnya bisa keluar dari lift. Tapi saya kemudian kesulitan memasuki Musholla karena posisi musholla persis disamping pintu lift tersebut. Sayapun kemudian mendekati seorang petugas sekuriti yang sedang melepas sepatunya, sepertinya akan menunaikan sholat juga, dan bertanya. "Pak, ini anak-anak ABG pada ngantri apaan sih, kok rame banget?" Dengan entengnya bapak sekurity ini menjawab, "pada ngantri buat beli tiket ke neraka, mas! Kita mah beli tiket ke surga aja yok!" seraya membantu saya menyingkirkan kumpulan anak-anak yang menghalangi jalan ke tempat wudhlu. Tidak lama saya mengetahui dari obrolan anak-anak tadi, mereka sedang antri untuk mendapatkan tiket sebuah konser musik yang pagi ini mulai dijual oleh PT Java Musikindo di lantai 2 dengan harga khusus. Sayapun shalat Dzhuhur yang ironisnya hanya berdua dengan bapak sekuriti tadi.
Selepas shalat, saya menuju kantin tak jauh dari Musholla untuk makan siang. Kantin nasi Padang ini juga terlihat lebih ramai dari biasanya. Saya duduk disamping sekumpulan gadis-gadis ABG yang tengah asyik mengobrol, karena memang tidak ada tempat yang tersedia selain itu. Dari obrolan mereka aku mendapatkan beberapa informasi seputar konser musik tadi. Rupanya, Adrie Subono - Java Musikindo - berhasil mendatangkan penyanyi asal Amerika yang lebih dikenal dengan nama Pitbull. Jujur, saya tidak update untuk urusan musik, jangankan internasional, level nasional saja saya gak ngikutin, jadi mendengar nama grup musik Pitbull inipun baru hari ini. Gadis-gadis disamping saya tampak selesai menyantap makan siang, tapi mereka tetap mengobrol dengan asyiknya. Salah satu dari mereka mengeluarkan sebungkus rokok, kemudian gadis-gadis itu semua merokok sambil melanjutkan obrolan mereka.
Tingkah polah anak-anak ABG tadi mengingatkan saya dengan tayangan-tayangan sinetron di televisi kita, saya tidak tahu pasti apakah tontonan itu yang menjadi tuntunan anak-anak remaja sekarang, ataukah memang itu gambaran kehidupan remaja kita saat ini, terutama mereka yang hidup di kota-kota besar macam Jakarta. Ironis sekali melihat mereka rela berjam-jam antri untuk mendapatkan tiket konser, mengeluarkan uang ratusan ribu demi konser ini, setahu saya harga tiket yang paling murah adalah Rp 250.000, bahkan ada yang sudah berjam-jam mengantri begitu dapat giliran ternyata uangnya kurang, dan harus ambil uang lagi kemudian mengantri lagi dari belakang, luar biasa! Siapakah pitbull ini sehingga kok begitu besarnya pengorbanan remaja-remaja tersebut untuk sekedar menonton konser mereka?
Setelah melakukan sedikit searching melalui internet, saya menemukan detail informasi mengenai Pitbull ini. Rupanya, Pitbull bukanlah group musik, tapi nama panggung dari seorang Rapper Amerika keturunan Cuba yang nama aslinya adalah Armando Christian Perez berusia 29th. Latar belakangnya cukup kelam, broken home sejak kecil dan diasuh ibunya yang bercerai dengan ayah Perez. Umur 16th, Perez diusir oleh ibunya karena terlibat dalam perdagangan narkoba. Keberuntungan kemudian menghampiri pemuda ini karena bakatnya dalam musik hip hop reggae, mengantarkannya ke jalur selebritis yang kemudian terkenal bukan saja di Amerika, tetapi juga di mancanegara, termasuk Indonesia. Jika anda coba mengakses official website pitbull, maka anda akan disuguhkan gambar-gambar wanita dengan pakaian cukup terbuka, khas selebrity Amerika.
Sungguh malang remaja kita yang entah disadari atau tidak telah memberikan sebagian wala' nya kepada orang semacam ini, sehingga mereka rela melakukan apa saja hanya demi menonton konsernya. Saya sendiri, hanya bisa beristighfar, memohon ampunan atas kelemahan diri saya dalam dakwah. Saya mungkin lebih memahami dien ini ketimbang remaja-remaja tadi, tapi kelemahan dalam dakwah sungguh menghinggapi diri saya. Saya hanya bisa menyaksikan dengan kebencian dalam hati. Ya Allah, berikan kekuatan kepada hamba agar mampu membela dien Mu dan menyelamatkan generasi-generasi umat Mu dari jurang kehancuran, amin.
Langganan:
Postingan (Atom)